REVITALISASI BAHASA CIA-CIA DALAM PERSPEKTIF KEARBITRERAN BAHASA FERDINAND DE SAUSSURE
Abstract
Bahasa Cia-Cia adalah salah satu bahasa daerah yang terancam punah akibat keterbatasa penutur muda dan tidak adanya sistem aksara yang mapan. Dalam upaya pelestariannya, masyarakat Cia-Cia mengadopsi aksara Korea (Hangul) sebagai sistem tulis alternatif sejak tahun 2009. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena revitalisasi bahasa Cia-Cia dalam perspektif kearbitreran tanda bahasa menurut Ferdinand de Saussure. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan teknik analisis isi terhadap literatur, dokumen, dan sumber akademik terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan Hangul oleh masyarakat Cia-Cia merepresentasikan fleksibilitas sosial dalam memilih lambang bahasa, yang menegaskan sifat arbitrer hubungan antara penanda dan petanda. Aksara dalam hal ini tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis, tetapi juga simbol identitas budaya dan kebahasaan. Disarankan agar kebijakan pelestarian bahasa daerah lebih terbuka terhadap pendekatan inovatif, termasuk kemungkinan penggunaan sistem tulisan non-lokal selama tetap memperkuat fungsi komunikasi dan representasi budaya lokal.
Keywords:
cia-cia, bahasa, lambang, revitalisasi, arbitrerDownloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia
(E-ISSN: 2549-5119) di terbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNMA
Jalan K.H. Abdul Halim, No. 103, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Public Services :
Email : pbsi@unma.ac.id

Diglosia is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


